Antisipasi Tindakan Pemerkosaan Ala Jepang

Untuk memerangi tindakan cabul, seperti memotret celana dalam atau mengintip rok para remaja puteri, sebuah lembaga akademis di Nagoya akhirnya memutuskan untuk kembali memodifikasi seragam sekolah mereka.

Tindakan cabul yang sering terjadi pada siswi di Jepang bukan kabar baru. Untuk itu, Takakura Junior High School telah melakukan modifikasi pada rok sekolah mereka. Rok yang diberi nama culotte skirt ini sekilas memang tampak seperti rok lipit pada umumnya, tetapi sebetulnya itu adalah celana pendek.

Istilah “culotte” sendiri mengacu pada pakaian yang terlihat seperti rok, dan ini cukup umum digunakan sebagai seragam di luar Jepang. Sementara itu, di Perancis, istilah “culotte” lebih mengacu pada celana dalam wanita.

Di Jepang, sekitar 95 persen dari sekolah tinggi memberlakukan pemakaian seragam. 5 persen sisanya tidak mengharuskan siswanya memakai seragam, namun jika ingin mereka boleh mengenakannya.Karena masing-masing sekolah memiliki seragam berbeda, model seragam sering menjadi faktor penting yang menentukan siswa memilih suatu sekolah.

Meski sudah banyak siswi yang memakai celana pendek ketat di balik rok mereka untuk melindungi diri dari para maniak, ide membuat rok culotte, busana yang juga populer dengan wanita muda Jepang, tampaknya menjadi alternatif yang cerdas dan aman.

merdeka.com

Kaos Rp 890 juta dijual Hermes

Bisa jadi ini adalah kaos termahal yang pernah ada. Meski begitu, dibandingkan dengan kaos termahal yang dibuat dengan berlian hitam atau emas, bisa jadi kaos terbaru dari Hermes ini kalah dalam segi penampilan.

Namun, jangan lihat penampilannya. Kaos Hermes dari kulit buaya ini dijual seharga Rp 890 juta. Angka ini belum termasuk pajak yang harus dibayar pembeli. Total, seseorang harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu dolar, sekitar satu miliar rupiah, untuk membelinya.

Kaos kulit buaya ini pertama kali diperkenalkan Hermes pada pertunjukannya untuk musim semi dan musim gugur tahun 2013.

Namun tentunya, penggunaan kulit buaya ini menyebabkan PETA, organisasi pecinta binatang, kalang kabut. PETA berpendapat bahwa Hermes harus mulai menghitung risiko yang akan mereka dapatkan dengan menggunakan kulit buaya asli yang tentunya didapatkan dengan membunuh dan menguliti buaya.

“Harga tertinggi untuk kaos yang terlihat murahan dari Hermes ini dibayar oleh setiap buaya yang mereka bunuh atau mereka kulit hidup-hidup,” ungkap juru bicara PETA, seperti dilansir oleh Today.com (26/03)

PETA menyarankan agar semua produk fashion menunjukkan kreativitas, bukannya kekejaman pada hewan. PETA juga berpandangan bahwa tak ada binatang yang harus dibunuh untuk membuat produk fashion.

merdeka.com